Hasil Pembicaraan “Anak Muda Dan Politik Sontoloyo” Seruput Kopi

Hasil Pembicaraan "Anak Muda Dan Politik Sontoloyo" Seruput Kopi

Terima kasih Denny Siregar, Anda diam-diam sudah membukakan dan menjadi tonggak sejarah dalam mempertontonkan dukungan murni dari kubu Hatta dan Soekarno, mengenai keberpihakan mereka kepada Joko Widodo, capres nomor urut #01. Ini menjadi sebuah statement yang benar-benar clear cut, crystal clear dari kubu Hatta dan Soekarno itu sendiri. Gustika condong ke Jokowi!

Dua bapak Proklamator ini benar-benar berpihak kepada Jokowi. Lumrah. Wajar. Kenapa? Karena Jokowi adalah sosok yang paling mirip dengan kesahajaan sosok Hatta. Tahu cerita Hatta dan Bally yang tak terbeli? Joko Widodo, mencerminkan kesahajaan Hatta. Bukan Hatta secara menyeluruh tentunya. Hatta is Hatta. Jokowi is Jokowi. Tapi, ada kemiripan di sisi tertentu. Bagaimana kisahnya?

Kita melihat bahwa Bung Hatta dan sepatu Bally sempat dijadikan bahan perbincangan hangat. Para pejabat saat ini, tentu sudah familiar dengan dandanan mentereng, rumah dan mobil mewah. Masyarakat memimpikan figur-figur yang bisa dijadikan teladan. Sayangnya, mereka para pejabat zaman now malah mempertontonkan ketololan alias sontoloyo.

Contohnya adalah Sandiaga. Manusia ini justru mempertontonkan kedunguan, ketololan dan ketidakbecusan dalam bertindak. Tempe digenggam dan dijadikan seperti telepon. Lalu Ahmad Dhani si tersangka ujaran kebencian pun dicium. Lalu pelukan dengan laki-laki secara mesra.

Berpegangan tangan dengan lelaki. Kurang apa lagi coba? Itukah sosok Bung Hatta? Pantas saja Gustika mengamuk tak karuan di Twitter, dan penulis rasa itu adalah hal yang lumrah.

Mohammad Hatta itu berbeda. Dia adalah sosok terpelajar. Ia bahkan tidak bisa membeli Bally. Berbeda. Antara tokoh koperasi dan tokoh korporasi. Antara tidak ngemplang pajak sampai kepada ngemplang pajak. Perbedaan Hatta dan Sandi yang sangat berbeda. Antara surga dan kerak neraka.

Lantas apakah Gustika netral? Rasanya untuk netral, adalah sebuah mitos. Neutrality is a myth. Setiap orang pasti berpihak. Setiap orang pasti punya cerita dan jalan pikirannya. Mereka pasti bisa

membandingkan. Tidak ada orang di dunia ini yang tidak menilai.

Filsuf Protagoras pun mengatakan bahwa men is a measurer of all things. Artinya semua manusia itu pasti menilai dengan cara pandang mereka.

Untuk netral, nyaris mustahil. Hil yang mustahal, begitulah yang diucapkan oleh pendiri Seword. Lantas Gustika pun akhirnya harus mengakui bahwa Jokowi itu sangat baik. Ia mengapresiasi Jokowi. Gagasan yang dimunculkan Jokowi tidak stagnan. Ini yang sangat penting.

Gustika juga melihat ketulusan yang ada dalam diri Joko Widodo. Kecondongan ke Jokowi adalah sebuah kabar baik.

Di sisi Jokowi ada Gustika, Ma’ruf Amin, Tsamara, Dini Purwono, Grace Natalie, Rian Ernest, Adian Napitupulu, Budiman Sudjatmiko dan yang paling penting, Manuel Mawengkang, di sisi sebelah ada siapa? Ely Sugigi, Lucinta Luna alias Muhammad Fatah, Sandiaga, Ahmad Dhani, Jonru. Siapa mereka?

Begini loh. Kita sadar bahwa Jokowi itu penuh dengan prestasi. Rakyat mencintai Jokowi. Rakyat mengasihi Jokowi.

Apalagi didukung dengan clan Soekarno yaitu Megawati Soekarnoputri, dan muncul clan Hatta, yaitu Gustika Jusuf Hatta. Ini adalah sebuah kabar baik, yang harus kita dengung-dengungkan terus menerus. Mari kita dukung Jokowi untuk Indonesia yang adil dan beradab!

pada sela-sela akhir pembicaraan salah satu audiens (penonton) memberikan pertanyaan “bagaimana menjual jokowi kepada anak muda/apa yang bisa di tawarkan kepada anak muda”

 

“Kalau dari aku, jadi kalau yang saya lihat dari Pak Jokowi membangun pulau luar Jawa. Jadi Papua dibangun, Kalimantan, Sulawesi.

Dan memang Pak Jokowi gagasan banyak nggak stagnan, walaupun ada masalah sana-sini, tapi dari dia sendiri saya lihat ada ketulusan, dan itu kenapa saya lebih condong ke dia…

Nah, bagi saya kan sebagai cucu Bung Hatta, bukan gimana-gimana, tapi sebagai cucu beliau, saya ditanamkan saya nggak boleh kapitalis walaupun saya main di mal segala macam.

Tapi melihat nama dua orang di sana, menurut saya tuh nggak pantaslah jadi pemimpin, karena itu (ketampanan) sebenarnya itu legal, sebetulnya, tapi patut dipertanyakan moralitasnya nggak di situ…” 

  • kata Gustika dalam diskusi ‘Anak Muda dan Politik Sontoloyo’ di Jl HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (31/10/2018).**

Anak muda banyak berbicara soal industri kreatif, lapangan pekerjaan. tanya aja bu OK OC yang jadi berapa banyak? kalo sesuatu yang di buat untuk suatu daerah saja gagal jangan di nasionalkan itu yang pertama.

Ke dua jokowi adalah presiden pertama yang membentuk badan ekonomi kreatif untuk mendukung anak-anak muda di bidang kreatif, cukup 2 itu saja yang harus di jual ke pada anak-anak muda sementara yang lain belum menghasilkan apapun jokowi kongkrit.

  • kata Tsamara Amany Alatas dalam diskusi ‘Anak Muda dan Politik Sontoloyo, Rabu (31/10/2018).