Cara Menghadapi Orang yang SOTOY LEHONG

Berurusan dengan orang yang selalu merasa benar bisa membuat kita frustasi dan rasanya hidup pun jadi menyedihkan. Tapi, bagaimana sih caranya menghadapinya tanpa membuat kita kehilangan kontrol diri?

Berikut tipsnya agar kamu bisa mengatur emosi saat menghadapi dia yang membuat hidup jadi penuh tantangan.

1. Jangan goyah

Secara alami, kita pasti selalu ingin mempertahankan sudut pandang kita di hadapan lawan. Tapi, kita gak bisa begitu di hadapan orang yang selalu merasa dirinya benar. Solusi yang bisa kita terapkan adalah bersikap setenang mungkin dalam menghadapinya saat situasi memanas.

Ambil napas dalam dan hembuskan. Kontrol emosi dan reaksi kamu. Sampaikan bahwa kamu akan melanjutkan diskusi lagi nanti. Kemudian kembalilah saat kalian berdua sama-sama tenang. Tunjukkan kecerdasan emosinal kamu sehingga bisa menjadi contoh baginya tentang bagaimana sebaiknya ia harus bersikap di masa depan.

2. Jangan berusaha untuk mendiagnosis gangguan kepribadiannya

Kita gak bisa langsung men-judge seseorang memiliki gangguan kepribadian hanya karena ia selalu merasa benar dan tidak peka secara emosional.

Karena, orang yang antisosial pun dapat merasakan apa yang orang lain rasa dan pikir tentang dirinya. Pada akhirnya, ia pun bisa memanipulasi mereka. Juga orang yang paranoid, ia sangat peka dengan perasaan dan motivasi orang-orang di sekitarnya yang ingin mengambil keuntungan darinya.

Jadi, kalau kamu mengira lawan bicaramu mengidap narsistik hanya karena ia egois dan melihat berbagai hal hanya dari sudut pandangnya, bisa saja kamu salah. Karena, gangguan kepribadian gak selalu terkait dengan ketidakpekaan emosional.

3. Bersiap untuk berargumen

Sebelum kamu berdebat karena berbeda pendapat, coba lihat dulu penyebab utamanya. Karena, orang yang selalu merasa benar biasanya karena ia merasa serba tahu.

Orang yang serba tahu ini masih terbagi lagi ke dalam 2 jenis. Ada yang sok tahu karena rasa insecure yang mendalam. Makanya, ia pura pura tahu banyak hal demi menutupi dirinya. Ada juga yang memang beneran tahu banyak hal, makanya ia merasa wajib untuk membagikan pengetahuannya kepada orang lain.

Kemudian, pikirkan apa yang rela kamu lepaskan dari hasil akhir perdebatan ini. Mana yang lebih penting, argumenmu atau hubunganmu? Karena, sehati-hati apapun kamu dalam menyampaikan argumen, perdebatan dapat merusak sebuah hubungan.

Tentukan pula apa tujuanmu dari argumen itu. Apakah kamu hanya ingin ia mendengar sudut pandangmu? Ataukah kamu hanya ingin ia tahu bahwa perasaaanmu terluka? Jangan lupa, siapkan bukti-bukti yang dibutuhkan jika argumenmu ini tentang hal yang terkait fakta.

4. Bantu mereka melihat sisi yang lain

Meskipun dia selalu merasa benar, dia berhak untuk didengar. Dan sempatkan untuk bertanya agar kamu lebih memahami sudut pandangnya. Sebelum menyampaikan argumenmu, posisikan dirimu di pihaknya dengan cara memahaminya. Barulah setelah itu kamu sampaikan sudut pandangmu yang berbeda dengannya.

Dan jangan buat argumenmu untuk menyerangnya. Karena, jika dari awal kamu sudah menunjukkan pertentangan, ia pun akan langsung menutup diri. Dan kesempatanmu untuk didengar olehnya malah akan menjadi lebih kecil lagi. Jadi, tunjukkanlah sikap dan bahasa yang lebih terbuka agar ia mau mendengar.
(dipoint nomor 4 ini kasus yang sering saya temui ialah orang tersebut tidak memiliki tingkat ke EGOISAN yang Terlalu tinggi dan tidak memiliki sikap Untuk bertoleransi, jika kalian memiliki teman atau orang-orang terdekat kalian yang seperti ini maka sudah dapat di pastikan bahwa orang tersebut memiliki gangguan kejiwaan, penanganan yang terbaik dan tercepat ialah, membawa teman kita ke ahli gangguan kejiwaan)

5. Jaga agar jalan komunikasi tetap terbuka

Sulit jika harus berhubungan dengan orang yang selalu membuatmu merasa gak berharga. Kalau bisa memang sebaiknya kamu menjauh dari dia sepenuhnya. Tapi, terkadang kita berada di situasi di mana kita gak punya pilihan. Karena, bisa saja dia yang selalu merasa benar ini adalah teman kerja kita, tetangga, atau malah anggota keluarga sendiri.

Jadi, daripada terus berseteru, coba temukan kesamaan di antara kalian. Kalau kita bisa menemukan kesamaan dalam beberapa hal misalnya hobi, mungkin ini bisa membawa kepada hubungan yang lebih baik ke depannya. Ketika kalian makin akur dan saling memahami, maka akan lebih banyak persetujuan dalam keputusan yang kalian buat di masa depan.

6. Jaga pembicaraan tetap tenang

Jangan lupa, perhatikan body language kamu. Kalau kamu sendiri sudah berada di hadapannya dengan tangan bersilang di dada, ia pun akan merasa bahwa kamu sendiri sudah menutup diri dengan diskusi yang akan kalian laksanakan. Jadi, berikanlah kesan bahasa tubuh yang terbuka dan santai agar ia nyaman dalam menyampaikan pendapatnya dan juga dalam menyimakmu.

Buatlah kontak mata dengannya. Tunjukkan bahwa kamu menyimaknya. Tapi, kalau kondisi sepertinya tidak kondusif karena tidak akan ada yang menang, maka pahami kapan kamu harus mengakhiri perdebadan tersebut. Ada kalanya kamu ingin mengakhiri tanpa menyerangnya, sementara ia masih ingin terus mendebatmu, maka akhirilah pembicaraan tersebut secara baik-baik.

7. Bercerminlah pada diri sendiri sebelum menyimpulkan orang lain bersalah

Ketika kamu selalu disalahkan dan dia selalu dalam posisi sebagai pihak yang benar, mungkin kamu juga perlu memikirkan sudut pandangnya itu. Coba refleksi diri mungkin dia benar bahwa kamu memang salah. Mungkin kamu yang harus berubah. Maka, akuilah bahwa terkadang kamu juga bisa salah. (only happen if that person your boss)

8. Kenali bahwa perilakunya berasal dari kecerdasan emosi yang rendah

Pahami bahwa orang yang selalu merasa benar memiliki kecerdasan emosional yang kurang. Dan kecerdasan emosional ini adalah solusi yang kamu miliki untuk menghadapi orang seperti itu. Jadi, kamu harus lebih terbuka untuk menyampaikan apa yang kamu rasakan terhadapnya biar dia bisa paham karena dia kurang peka secara emosional. (terlalu sulit untuk dilakukan jika orang tersebut memiliki usia yang jauh dari kamu)